Peringati Hari HIV-AIDS, Pekerja Cafe Diambil Sampel Darah ... dan kota yang di Sumatra Barat pasti ada yang terkena virus mematikan ini," ...
DAFTAR ISTILAH
1. Booking : diajak berkencan dan dibayar
2. Flirting : melakukan aktivitas dan memberikan tanda-
tanda untuk menggoda lawan jenis, misalnya
mencuri pandang sambil tersenyum, kedipan mata,
lekukan di bibir
3. Gemblekan : kekasih gelap
4. Kapok : tidak ingin mengulangi perbuatan yang sama
5. Lady escort : penyanyi utama di kelab-kelab malam
6. Long time : lama bertransaksi seksual minimal 12 (dua
belas) jam lebih
7. Panti Pijat Plus : tempat untuk pijat dan ada layanan tambahan
yaitu layanan seksual
8. Pemandu karaoke : wanita yang bertugas untuk mendampingi para
tamu bernyanyi di tempat karaoke
9. Penyakit anak nakal : Infeksi Menular Seksual
10. Papi : sebutan WPS Tidak Langsung untuk para klien
dewasa tua yang kaya
11. Short time : lama bertransaksi seksual kurang dari 3 (tiga)
jam
12. Kongkow : duduk sambil bercakap-cakap dengan teman
tanpa aktivitas yang jelas
A. Latar Belakang
HIV dan AIDS pertama kali ditemukan di Asia sekitar tahun 1980-an. Sejak
saat itu, lebih dari 6 juta orang di kawasan Asia terinfeksi HIV. Hubungan
heteroseksual (heteroseksual intercourse), khususnya pada pria yang
berhubungan seksual dengan pekerja seks wanita, telah ditemukan menjadi
bentuk transmisi utama penyakit tersebut.
1)
Saat ini prevalensi HIV & AIDS
meningkat dengan cepat. Pada tahun 2000 diperkirakan di Asia lebih dari
500.000 orang meninggal karena AIDS, yaitu sekitar 1500 orang meninggal per
hari.
2)
Estimasi jumlah orang terkena IMS yang dapat diobati (Curable Sexually
Transmitted Infections) sekitar lebih dari 30 juta kasus setiap tahunnya. Tahun
2006 diperkirakan terdapat 8,6 juta orang yang positif HIV (ODHA) di Asia
Tenggara, termasuk 960.000 orang yang baru terinfeksi (kasus baru) pada tahun
sebelumnya. Diperkirakan sekitar 630.000 orang telah meninggal karena penyakit
yang berhubungan dengan AIDS. Sehingga dalam kurun waktu kurang lebih 6
tahun (2000-2006) terdapat peningkatan kasus sebesar 130.000 orang yang
meninggal karena AIDS.
Secara kumulatif pengidap infeksi HIV dan kasus AIDS di Indonesia dari 1
Januari 1987 hingga 30 Juni 2008 telah tercatat 6.277 kasus HIV (termasuk 212
orang yang baru terinfeksi di bulan Januari - Juni 2008) dan 12.686 kasus AIDS di
32 propinsi yang melaporkan, dengan 2479 kematian akibat penyakit yang
berhubungan dengan AIDS. Dari penderita AIDS ini ditemukan bahwa sejumlah
5438 kasus tertular melalui hubungan heteroseksual (42,8%).
3)
Saat ini Jawa Tengah merupakan urutan ketujuh se-Indonesia.
Tercatat sejak tahun 1993 sampai dengan 2008 memiliki 451 kasus AIDS dengan
173 kematian yang disebabkan oleh penyakit oportunistik. Hasil survei Depkes
menunjukkan bahwa sampai tahun 2008 telah ditemukan 167 kasus AIDS di Kota
Semarang. Semarang menempati urutan pertama untuk wilayah Jateng dalam
jumlah penderita HIV/AIDS.
4)
Data tersebut seperti fenomena gunung es (The ice
berg phenomenon of disease), dimana jumlah pengidap HIV/AIDS berjumlah
ribuan kali lipat dari yang tampil ke permukaan, yang sewaktu–waktu akan
muncul ke permukaan.
CDC (Center for Disease Control) melaporkan sebuah informasi
bagaimana HIV ditularkan, yaitu melalui hubungan seksual 69%, jarum suntik
untuk obat lewat intravena 24%, transfusi darah yang terkontaminasi atau darah
pengobatan dalam pengobatan kasus tertentu 3%, penularan sebelum kelahiran
(dari ibu yang terinfeksi ke janin selama kehamilan) 1%, dan model penularan
yang belum diketahui 3%.
5)
Melihat cukup besar peluang HIV ditularkan melalui
hubungan seksual, maka hubungan berganti-ganti pasangan merupakan faktor
khusus yang perlu diwaspadai. Seks komersial telah menjadi sebuah faktor yang
penting di dalam penyebaran infeksi HIV, khususnya di kawasan Asia.
Pengalaman di Indonesia, urutan keempat tingkat populasi terbanyak
sedunia, menunjukkan betapa cepatnya epidemi HIV dapat berkembang. Seks
komersial yang menjadi faktor penting di dalam penyebaran HIV tidak dapat
dipisahkan dengan kondisi prostitusi yang cukup eksis di Indonesia. Penelitian di
beberapa daerah di Indonesia menunjukkan tingginya tingkat perilaku beresiko
dan kasus IMS diantara pekerja seks pria dan wanita.
6)
Pekerja seks memiliki
peranan penting di dalam pertumbuhan kasus AIDS, sehingga mempromosikan
upaya pencegahan IMS, HIV dan AIDS diantara pekerja seks merupakan hal
yang sangat penting untuk mengontrol penyebaran epidemi HIV dan AIDS.
Pekerja seks bekerja dalam berbagai macam bentuk. Mereka dapat bekerja
di lokalisasi terdaftar di bawah pengawasan medis (direct sex workers) atau dapat
juga sebagai Wanita Pekerja Seks Tidak Langsung (indirect sex workers). Wanita
Pekerja Seksual Tidak Langsung (indirect sex workers) mendapatkan klien dari
jalan atau ketika bekerja di tempat-tempat hiburan seperti kelab malam, panti
pijat, diskotik, café, tempat karaoke atau bar. Beberapa dari mereka adalah WPS
yang sudah pernah bekerja di lokalisasi tetapi keluar dari lokalisasi kemudian
bekerja menjadi WPS Tidak Langsung di tempat-tempat hiburan yang mereka
anggap memiliki kelas yang lebih tinggi. Ada juga yang merasa lebih fleksibel
dengan bekerja sebagai WPS Tidak Langsung karena tidak diatur ketat oleh
mucikari. Bahkan ada juga karena melihat peluang untuk mendapatkan
tambahan uang lebih ketika mereka bekerja sebagai pemandu karaoke, pelayan
bir, atau pramuria di tempat hiburan malam. Mereka diketahui memiliki tingkat
penggunaan kondom yang rendah
7)
dan memiliki angka IMS yang lebih tinggi
dibandingkan pekerja seks di lokalisasi.
Di Indonesia, khususnya Kota Semarang sejak tahun 2004 juga sudah
dikeluarkan instruksi walikota tentang Program Penggunaan Kondom 100% di 2
(dua) lokalisasi di Kota Semarang yaitu Lokalisasi Sunan Kuning dan Lokalisasi
Gambilangu. Program ini dapat dikatakan cukup berhasil terbukti dengan
peningkatan pengetahuan pekerja seks lokalisasi terhadap IMS, HIV dan AIDS,
dan upaya penggunaan kondom sekitar 30%.
4)
Dapat diketahui bahwa kesuksesan dari program intervensi perilaku pada
pekerja seks yang bekerja di lokalisasi (direct sex workers) ini karena secara
khusus program tersebut didesain untuk mereka. Karena program tersebut
didesain untuk pekerja seks yang bekerja di lokalisasi, maka dimungkinkan
terdapat ketidaksesuaian jika program tersebut diterapkan kepada komunitas lain.
Untuk itulah strategi yang berbeda diperlukan untuk Wanita Pekerja Seksual
Tidak Langsung (indirect sex workers) yang bekerja dibawah lingkungan yang
sangat berbeda dimana dukungan dari staf kesehatan dan kelompok sebaya
sangat kurang, memiliki paparan resiko kekerasan yang lebih besar ketika
mereka menolak untuk melakukan seks yang tidak aman dengan klien, dan
kurangnya informasi tentang HIV.
9)
Akan tetapi mendesain program untuk
kelompok Wanita Pekerja Seksual Tidak Langsung (indirect sex workers) cukup
sulit, dikarenakan sangat kurangnya informasi tentang mereka khususnya
perilaku mereka dalam upaya pencegahan IMS, HIV dan AIDS.
Di Semarang sejak awal tahun 2000 Komisi Penanggulangan AIDS
bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Pariwisata telah memetakan
keberadaan Wanita Pekerja Seksual Tidak Langsung di panti pijat dan tempat
hiburan malam. Setelah dilakukan pemetaan dan negosiasi dengan pihak
besar untuk menularkan HIV dan penyakit menular seksual yang lainnya. Hal ini
perlu mendapat perhatian yang serius karena jumlah Wanita Pekerja Seksual
Tidak Langsung (indirect sex workers) diperkirakan semakin meningkat dari tahun
ke tahun.
14)
Kota Semarang sebagai ibukota Propinsi Jawa Tengah merupakan
pintu gerbang utama memasuki wilayah Jawa Tengah dan memiliki mobilitas
penduduk yang cukup tinggi. Berbagai aktifitas ekonomi, sosial, maupun budaya
mampu menempatkan Semarang sebagai jalur perdagangan dan area transit
sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendatang.
Sebagai kota transit pemerintah Kota Semarang membangun
berbagai fasilitas penunjang bagi kenyamanan pendatang. Di Kota Semarang
terdapat 25 hotel berbintang, 17 hotel melati, 35 café dan restoran, 18 panti pijat,
5 diskotik, 10 tempat mandi uap, dan ratusan salon kecantikan serta 2
resosialisasi. Hal ini sangat memungkinkan terjadinya transaksi seksual bagi para
pendatang. Semakin meningkatnya kuantitas dan kualitas fasilitas yang
memberikan kenyamanan bagi pendatang, maka semakin meningkat pula
kemungkinan kegiatan prostitusi di Kota Semarang yang pada akhirnya dapat
meningkatkan jumlah penyakit IMS, HIV dan AIDS.
4)
Di Semarang terdapat sekitar 14 panti pijat ‘plus’, 35 café, dan 5 diskotik
yang mempekerjakan wanita untuk pemandu karaoke, peminjat, atau pelayan bir
yang kesemuanya memiliki resiko untuk bertransaksi seksual dengan para
tamu
15)
, akan tetapi sangat sedikit diketahui tentang perilaku beresiko mereka
saat-saat ini.
Nama Peneliti Judul Penelitian,
Tahun
Desain dan Hasil Penelitian
muda, dan dewasa tua; aktivitas seksual
yang dilakukan adalah seks vaginal, oral,
dan anal; usaha pencegahan IMS dan
HIV&AIDS adalah dengan penggunaan
kondom, antibiotik, jamu, dan berolahraga;
sebagian mengakui tetap melayani tamu
ketika sedang sakit IMS dan menggunakan
kondom; pengetahuan semua subjek
mengenai penyakit IMS-HIV&AIDS, cara
penularan, pencegahan dan akibat atau
dampaknya adalah kurang; faktor
kemampuan diri dinilai kurang karena
posisi tawar subjek masih rendah dalam
negosiasi pemakaian kondom dengan
klien; faktor keseriusan yang dirasakan
adalah baik karena sebagian besar
memiliki kesadaran yang tinggi untuk
memeriksakan diri walaupun itu terjadi jika
subjek mengalami keluhan dan mengakui
bahwa mereka termasuk dalam kelompok
resiko tinggi; seluruh subjek mempunyai
sikap mendukung dalam penggunaan
kondom untuk mencegah terjadinya IMS
dan HIV&AIDS karena mereka merasa
kondom bermanfaat untuk mencegah
Kemudian alasan lain adalah karena perasaan tidak berharga yang
disebabkan oleh hilangnya keperawanan yang mereka anggap sebagai
sesuatu yang membuat seorang wanita berharga, maka mereka memilih
untuk terjun ke dunia prostitusi ini. Seperti kotak 3 dibawah ini:
Kotak 3:
“…butuh uang…ya pengaruh temen-temen…susah o` cari kerja, apalagi
aku kan oga lulus SMA...”
WPS 1, 17 th
Lanjutan Kotak 3
“...Pergaulan, sudah nggak perawan, ekonomi…he, aku sudah punya
motor sendiri lo... kalo temen-temenku ada yang juga watak, tabiat, cuma
nyari kepuasan... aku juga kadang nyari kepuasan mbak, mumet nek ora
ngono...haha....”
WPS 4, 21 th
“...yaa pengen seneng-seneng ana, anak-e wong sugih, ana sing memang
kerja ya ana, wong-e aneh…mungkin pernah sakit ati…yo wong kan alasan-e
dhewe-dhewe… kebanyakan sakit ati…ya karna wong lanang, wong tuwa...,
soale sini tuh orang-e ada yang mampu, anak-e wong sugih-sugih…, mungkin
bimbingan wong tuwane kurang opo piye…, apa pingin bebas, mungkin
semasa de`e di rumah karna anak-e orang kaya dadi nggak boleh bergaul,
tercekam trus pengen metu trus…ya kuwi… aku mbiyen ki ya selain ekonomi
aku pernah dikhianati pacarku mbak...”
WPS 3, 21 th
Ada sebagian kecil lain yang memulai pekerjaannya sebagai WPS Tidak
Langsung karena kakaknya kecelakaan dan membutuhkan biaya
pengobatan. Ada juga yang ditinggal pergi suaminya karena ia adalah istri
kedua, sedangkan ia tidak tahu lagi darimana uang untuk membesarkan
anak yang dilahirkannya diluar nikah itu. Tetapi ada juga yang lebih ironis
Lebih dari setengah subyek pernah berdiskusi mengenai cara
pencegahan supaya tidak terjadi KTD atau terkena IMS dan HIV&AIDS.
Sampai-sampai ada yang bertanya bagaimana cara melakukan aborsi.
Selain itu ada yang berpendapat dengan diskusi itu sebagai tempat sharing
dengan teman, karena menurut mereka belajar dari pengalaman lebih efektif.
Sebagian kecil subyek mengaku tidak terlalu banyak berdiskusi dengan
teman-teman karena malas dan lebih suka untuk tidur.